Showing posts with label thoughts. Show all posts
Showing posts with label thoughts. Show all posts

unconscious colonizer

Last night, I had a little conversation with my old friend. He was a lecturer in Indonesia Art Institute Yogyakarta, but now he is an artist based in Pakistan. Kind of surprise when I found his photo located at some places around Pakistan. So I chat with him til the clock show all zero. I found out that he also study in art major. It's an unusual choice to study art in West Asia countries and as I guess he told me about how the art impregnate with individual uniqueness deep from the heart. None of them likely industrialist art in some first world countries such as Germany.

When I was in Jogja, Mas Popok showed me some photos when he was at early 2000 Venice Biennale. I was impressed by most of the photos until it stopped at paintings or installations by African artist. How I described those, hmm, a compilation of contrasted arts. and now I feel like a colonizer.

I don't want to distinguish western and eastern art, but there really are differences between them. Let's not talk about Indonesia art especially the capital city arts, were really influenced by the western. Meanwhile western like to show off some hi-tech art, eastern shows the art of nature form. When western thrown out some odd stuffs, eastern took it and make it as a new form of art. It was a really bad of me to talk about two sides of the world while I'm concern about equality.

Since art takes its spectacle when the contemporary term arises, people tends to not to judge good or bad works, maybe useful and useless. Still there are differences. My friend said, he was fascinated by how rubbish Jakarta's young artists' works are. He said there's nothing to compare the trashy of their works. But, that's what they did cause there's only two choices to be in the pages of Indonesia Art History: be brilliant or horrible while hoping that one day they were saved by abstract future thought. As if we followed the contemporary of postmodernism (how hard it could be, ha-ha), we still the unconscious colonizer who put no boundaries but art.

totally random thought of mine.
and sorry.

  

Sabana Fried Chicken


"Goreng yang garing, ya. Biar lebih krenyesss..."
Siapa yang tidak suka ayam goreng? Apalagi kulitnya dikategorikan sebagai bagian paling istimewa bagi sebagian besar orang    bahkan mungkin hanya 30% penduduk dunia tidak menyukai kulit ayam, itupun karena alasan kesehatan, i wanna live with you then. Salah satu restoran cepat saji yang terkenal dengan sajian ayam gorengnya tiba-tiba menjadi simbol dari ketulusan cinta seseorang. Seseorang yang layak dinikahi adalah yang mau memberikan kulit ayam goreng restoran cepat saji tersebut kepada pasangannya (yang tentu menyukai kulit ayam). Semacam tanda ia rela berkorban demi membahagiakanmu. oh, life in disney princess tales.

Kegaringan kulit ayam itu tidak hanya menjadi simbol cinta sebesar lautan, tetapi juga menjadi metafora dari kegiatan dunia kesenian, kesusasteraan, dan bahkan banyak hal lainnya untuk menjadi terkenal. Tak bisa kita mengelak dari proses goreng-menggoreng sebuah karya. Ini proses penting bagi ayam yang sudah dibumbui untuk nantinya bisa nikmat di mulut konsumen. Sementara konsumen tidak tahu bahwa ayam yang mereka makan adalah ayam tiren busuk dan membiru...

Cerita tentang Buku dan Uang

Pagi ini, aku mencoba menulis mengenai keadaan politik Indonesia sekarang. Sayangnya, tidak lama setelah paragraf keempat, tulisanku menyadarkan bahwa aku tak baik dalam menulis hal-hal yang sama liciknya seperti politik. Mencoba melakukan metafora pun aku merasa jijik, sejijik aku melihat para anggota dewan legislatif termemalukan yang baru saja memenangkan suara. Kasihan negeri ini, sedang dikuasai oleh orang-orang yang     mungkin     memiliki niat baik namun menjadi jahat di muka ketika sudah berada di komunitas penjahat terbesar di dunia, politikus.

about world people


East meets West - Yang Liu

Sungguh, ini bukan tulisan ilmiah atau esai serius dengan segala banyak kutipan dari berbagai macam buku teori. tulisan ini hanya sebuah pemikiran ringan kala aku dan si bulan sedang duduk menikmati fast food merayakan gaji pertama hasil (membantu) penerjemahan (dosenku). lupa apa yang kami bicarakan pada awalnya tapi dimulai ketika si bulan menceritakan tentang istilah Sastra Dunia yang diserukan oleh Goethe. Dalam perbincangan tentang Sastra Dunia ada pendapat bahwa "sebuah negara/wilayah dikatakan sudah beradab bisa dilihat dari karya sastra yang dihasilkannya" (kurang lebihnya begitu). Apabila kita menyetujui pendapat itu, berarti kita menyetujui apabila orang Indonesia dikatakan manusia purba.

Tidak, dalam tulisan ini aku tidak akan membahas bagaimana sastra Indonesia muncul dan berkembang. aku belum memiliki cukup pengetahuan untuk membahas hal tersebut. Bahkan tulisan ini tidak akan membicarakan tentang sastra pula. 

maybe it's all about being sane in this crazy world

beberapa orang temanku menyatakan ketidaksukaannya terhadap feminis. mereka menganggap feminis itu gerakan radikal yang bodoh. minta dihargai tapi malah semena-mena. sudah banyak yang mengatakan juga bahwa gerakan feminis itu gagal. gagal? kalau aku mau lihat-lihat bagaimana perempuan sekarang, bisa dikatakan cita-cita mereka tercapai. dari gelombang pertama yang meminta para perempuan untuk disekolahkan, penghuni kampus sekarang sudah dipenuhi para perempuan. lalu di gelombang kedua dengan munculnya feminis marxis, perempuan sekarang sudah bekerja dengan upah yang sama dengan laki-laki. bahkan lucunya sekarang, perusahaan-perusahaan lebih senang mencari pelamar perempuan, apalagi yang menarik, ketimbang laki-laki. katanya, perempuan lebih rajin ketimbang laki-laki. bisa dikatakan berhasil bukan secara kasat mata? lalu, bagaimana dengan feminis gelombang ketiga yang kukatakan seperti perempuan-perempuan kehilangan identitas?

Syahrini yang "alhamdulillah sesuatu banget"

Sesuatu yang ada di hatiku
Sesuatu yang ada di hatimu
Sesuatu yang ada di benakmu
Sesuatu juga yang dalam benakmu

ini lah sepenggal lirik dari nona jambul khatulistiwa, Syahrini. Tak mungkin pembaca Indonesia tidak mengenal nama ini. Sekali pun tidak ada TV di sekitar anda, setidaknya ada orang yang bisa menirukan cara berbicaranya yang "alhamdulillah, sesuatu banget".