about world people


East meets West - Yang Liu

Sungguh, ini bukan tulisan ilmiah atau esai serius dengan segala banyak kutipan dari berbagai macam buku teori. tulisan ini hanya sebuah pemikiran ringan kala aku dan si bulan sedang duduk menikmati fast food merayakan gaji pertama hasil (membantu) penerjemahan (dosenku). lupa apa yang kami bicarakan pada awalnya tapi dimulai ketika si bulan menceritakan tentang istilah Sastra Dunia yang diserukan oleh Goethe. Dalam perbincangan tentang Sastra Dunia ada pendapat bahwa "sebuah negara/wilayah dikatakan sudah beradab bisa dilihat dari karya sastra yang dihasilkannya" (kurang lebihnya begitu). Apabila kita menyetujui pendapat itu, berarti kita menyetujui apabila orang Indonesia dikatakan manusia purba.

Tidak, dalam tulisan ini aku tidak akan membahas bagaimana sastra Indonesia muncul dan berkembang. aku belum memiliki cukup pengetahuan untuk membahas hal tersebut. Bahkan tulisan ini tidak akan membicarakan tentang sastra pula. 

Ini semacam kajian poskolonial ringan saja tentang mobil dari barat.

Manusia tidak beradab, entah itu kata yang jauh lebih baik dari purba atau tidak, mungkin itulah istilah yang muncul apabila para (dewan) sastrawan dunia (Goethe) melihat perkembangan sastra di Indonesia yang angot-angotan dan masih main-main bibit unggul dari moyang. Tidak usah terkejut sebenarnya apabila ada yang mengatakan hal seperti itu sekarang karena ujaran tersebut sudah muncul sejak zaman Belanda datang ke daratan hijau kita ini. Para meneer ini datang dengan tujuan juga untuk membuat nenek uyut kita menjadi beradab. Mereka menganggap apa yang dilakukan oleh pribumi adalah kegiatan-kegiatan manusia purba. Sehingga ditanamkan lah segala politik yang (dulunya) merugikan hingga yang (katanya) ingin membalas budi pribumi kepada Belanda yang ternyata hanyalah kamuflase kolonialisme bentuk baru.

Sadar, manusia modern sadar bahwa melakukan kekerasan secara fisik itu tidak bermoral sehingga penjajahan di muka bumi ini harus dihapuskan seperti yang dikatakan dalam pembukaan UUD 1945. Namun seperti yang dikatakan oleh Freud (dengan Id atau Dawkins dengan gen-nya) bahwa kita ini hidup untuk mempertahankan eksistensi diri masing-masing. Pertahanan ini dilakukan dengan segala cara egoisme yang tak kenal belas kasihan (ruthless selfishness) dan bekerja secara sublimasi menjadi altruistik (tindakan baik). Sehingga, para manusia (barat) yang menganggap diri mereka beradab ini membuat pola baru dalam 'mengudarakan' pemikiran mereka. Bukan lagi dengan perintah pemerintah tapi melalui ruang-ruang publik yang lebih umum. ya, penjajahan terselubung.

Beberapa waktu lalu, aku melihat infographic yang dibuat oleh seorang perancang grafis bernama Yang Liu. Ia menerbitkan sebuah buku yang berjudul East Meets West yang berisikan bagaimana keadaan masyarakat barat dan timur melalui grafik sederhana dengan keterangan yang minim. Dengan sangat baiknya, Maria Popova membagi beberapa gambar dalam websitenya yang lalu membuatku tertarik dengan satu grafik bandingan bertajuk "The evolution of transportation over the last three decades" yang aku pajang di atas. Tak bisa dipungkiri lagi memang sepeda yang orang timur (spesifiknya Cina apabila merujuk ke buku tersebut) anggap kendaraan tradisional merupakan kendaraan "modern" bagi orang barat. Nge-hit-nya sepeda ini sebenarnya dipengaruhi oleh gaya hidup masa kini yang serba go green, terutama di daratan Eropa sana. Sementara orang timur sekarang malah gila-gilaan memproduksi mobil yang setelah diteliti-teliti merupakan benda yang menghasilkan polutan perusak lingkungan.

Ini lucu, pola perilaku orang barat ini bisa dijelaskan dengan mekanisme proyeksi Freud. Apa itu mekanisme proyeksi? secara sederhana mekanisme proyeksi adalah pertahanan diri Ego yang dilakukan dengan cara melemparkan kesalahan diri sendiri terhadap orang lain. Lalu dalam perilaku tersebut, kesalahan apa yang dilakukan oleh para barat? Siapa yang menanggungnya?

Jawab satu per satu, mungkin akan kucoba. Kalau kita membaca buku penemuan-penemuan yang mengubah dunia pasti salah satunya adalah penemuan sebuah kotak dengan roda yang bisa berjalan dengan bantuan tenaga mesin yang kita sebut mobil. Apabila membacanya di Wikipedia akan muncul seorang Jerman bernama Karl Benz sebagai penemu bentuk mobil modern pertama. Mobil menjadi sangat populer hingga kini dengan segala bentuk modifikasinya. Muncul banyak perusahaan-perusahaan asal barat yang bersaing mengeluarkan produk-produk otomotif mereka dengan segala kecanggihannya. tidak sedikit orang tertarik dengan perkembangan kotak beroda empat ini. Disebabkan oleh fungsinya yang memudahkan mobilisasi banyak manusia (karena kapasitasnya yang cukup mengangkut banyak orang), permintaan terhadap mobil pun bertambah. permintaan inilah yang membuat para produsen kendaraan ini mencari negara-negara yang memiliki sumber daya manusia besar namun mau dibayar dengan upah kecil. Ya, tentu saja timur menjadi salah satu sasaran pendirian pabrik mereka. Masuklah para penghasil mobil ini ke timur dengan membawa sebuah "benda baru" yang besar, muat untuk empat orang (umumnya), dan berkursi empuk, tidak seperti sepeda atau kereta tarik yang biasa mereka gunakan. Senang hatilah para timur ini melihat benda asing nan futuristik ini akan dibuat di negara mereka. bagai sedang mengasah berlian untuk diperdagangkan. Produksi mobil pun sudah tidak sedikit lagi, tapi semakin banyak dan banyak dan banyak dan banyak hingga jalan tol (yang katanya jalan bebas hambatan) macet total.

Lubang pada atmosfer bumi, fenomena yang ditemukan oleh para peneliti itu adalah cikal bakal dari segala usaha go green modern ini. Mereka mencari-cari segala sumber penyebab lubang ini dari dalam bumi. Pencarian itu akhirnya menemukan bahwa alat transportasi yang digunakan oleh manusia termasuk dalam penyebab kerusakan lingkungan, dan mobil salah satunya. tak usah sebenarnya mengatakan ada berapa jumlah mobil di dunia ini, tapi bisa kita perkirakan dengan melihat segala kegiatan "per-mobil-an" dalam film-film Hollywood nan modern itu dan juga kenyataan pada sehari-harinya. Intinya jumlah mobil masa kini sudah terlalu mengkhawatirkan.

Kembali sadar, para barat ini mulai merasakan kecemasan dengan apa yang mereka hasilkan. Mulailah si barat mengampanyekan kesadaran diri terhadap lingkungan yang sudah mulai rusak. Salah satunya adalah dengan meninggalkan kendaraan pribadi dan lebih memilih untuk berjalan atau menggunakan sepeda. Ya, mereka melakukan itu semua. tapi karena pada dasarnya manusia tidak ingin rugi juga, mereka tetap menjalankan bisnis kendaraan mereka dan (sepertinya) menjual lebih banyak kendaraan mereka di timur. sehingga, walau mobil mereka sudah tidak lagi laku di barat karena sudah beralih ke sepeda tapi mereka masih bisa mendapatkan keuntungan dari pabrik-pabrik yang mereka taruh di timur. sekiranya begitu.

Lalu bagaimana mekanisme proyeksi bekerja? Dalam tulisan umum ini tidak akan kujelaskan dengan pembacaan secara psikologi. Pada awalnya, para produsen mobil ini tidak sadar dengan apa yang mereka hasilkan. Mereka merasa sedang menghasilkan sebuah benda yang dapat mempermudah kehidupan umat manusia di kemudian hari. Namun dibalik itu, "kemuliaan" mereka ini sebenarnya memiliki tujuan terselubung yakni juga untuk menguntungkan diri sendiri (bisa sajakan sebenarnya benda itu diciptakan untuk mempermudah dirinya yang suka ke mana-mana) dengan mengatasnamakan "untuk semua". Semua orang terpikat dan, ya, benda itu sekarang sudah terparkir manis (setidaknya) di setiap halaman rumah orang perkotaan (umumnya). Lalu saat hasil penelitian menyebutkan bahwa mobil adalah penyebab kerusakan lingkungan, para produsen ini langsung sadar bahwa mereka sedang disalahkan atas perbuatannya. Mereka seperti sadar dengan kesalahan tersebut tapi tak mau mengakuinya karena nanti kalau mereka tutup pabrik, rugi bandar, dong? tidak mau lah mereka! Sadar bahwa mereka memiliki pabrik di timur dan transaksi banyak terjadi di wilayah ini, mereka pun akhirnya menumpahkan kesalahan mereka ini ke timur. Tidak langsung, tidak. secara halus pastinya. bagaimana? Mudahnya tentu dengan iklan-iklan! Kadang aku suka merasa bahwa orang timur (Indonesia) adalah manusia yang kurang kritis menanggapi iklan, sehingga ya mudahlah pengaruh barat ini hadir dalam hidup kita. setelah berhasil, HAP! mobil adalah cita-cita sampingan selain menjadi dokter.

Orang-orang timur mulai meninggalkan sepeda mereka dan beralih ke kotak mengkilap beroda empat. YES! si barat mulai mendapatkan kembali keuntungan mereka yang sempat terhenti gara-gara penelitian tadi. mereka menjadi orang sehat sementara kita sedang berburu masker warna-warni untuk menghindari polusi udara yang dihasilkan oleh mobil-mobil temuan orang barat. Kesalahan sudah sedikit demi sedikit dilemparkan. Lalu, apa mekanisme proyeksi ini sudah berhasil?

Bisa saja sebenarnya kita menyangkal hal tersebut karena kita tidak sadar sedang menanggung sebuah kesalahan yang bukan kita penciptanya. Mungkin nanti (atau mungkin sudah ada) akan muncul penelitian yang menyebutkan bahwa wilayah timur lah penghasil zat-zat perusak bumi terbesar dengan mobil yang melimpah ruah tersebut. Sementara barat telah mensucikan diri dengan menggunakan sepeda. Sepeda yang sebenarnya telah kita gunakan saat barat sedang heboh dengan mobilnya. 

Dipersalahkan lah kita! Dianggap sebagai manusia tidak beradab karena merusak lingkungan dari mana kita berasal. dianggap tidak cinta terhadap ibu pertiwi dan lupa akan kulitnya. Apa yang terjadi selanjutnya? masuklah para barat ini dengan segala kerjasamanya yang ingin memperbaiki lingkungan timur yang sudah tercemar dengan segala program mereka. program yang juga menguntungkan status si barat sebagai manusia beradab di seluruh jagad raya (berlebihannya seperti itu). lalu kita pun berpesta kembali menjadi manusia terjajah dengan lari-larian menggunakan kaos putih disembur serbuk warna-warni.

Saat aku memikirkan ini, ada kesadaran bahwa kita sebagai manusia yang pada awalnya jauh lebih beradab daripada si barat ini, sedang dipisahkan dari diri kita yang sebenarnya. kita sedang dididik kembali menjadi nenek moyang sendiri oleh orang-orang luar yang sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang bumi. Ya, wong kita dari dulu sudah melakukan kegiatan yang jauh lebih melindungi alam ketimbang si orang-orang yang merasa dirinya paling beradab itu. mereka kan baru tersadar ketika kata "ilmiah" muncul dalam sebuah tulisan.

Kembali, Freud mengatakan bahwa peradaban merupakan sumber frustasi manusia. Manusia dikatakan sedang dibentuk untuk tidak menjadi dirinya sendiri atau sedang dipisahkan dengan alam. 


dan ya, mungkin divide et impera pun mempunyai cara kerja baru modern ini ~



(tulisan ini juga dibuat agar aku tidak lupa pernah berpikir seperti ini, siapa tahu kelak nanti bisa digunakan. siapa tahu...... oh, siapa yang jadi tahu? tempenya mana?)

Jakarta, 27 Februari 2014