maybe it's all about being sane in this crazy world

beberapa orang temanku menyatakan ketidaksukaannya terhadap feminis. mereka menganggap feminis itu gerakan radikal yang bodoh. minta dihargai tapi malah semena-mena. sudah banyak yang mengatakan juga bahwa gerakan feminis itu gagal. gagal? kalau aku mau lihat-lihat bagaimana perempuan sekarang, bisa dikatakan cita-cita mereka tercapai. dari gelombang pertama yang meminta para perempuan untuk disekolahkan, penghuni kampus sekarang sudah dipenuhi para perempuan. lalu di gelombang kedua dengan munculnya feminis marxis, perempuan sekarang sudah bekerja dengan upah yang sama dengan laki-laki. bahkan lucunya sekarang, perusahaan-perusahaan lebih senang mencari pelamar perempuan, apalagi yang menarik, ketimbang laki-laki. katanya, perempuan lebih rajin ketimbang laki-laki. bisa dikatakan berhasil bukan secara kasat mata? lalu, bagaimana dengan feminis gelombang ketiga yang kukatakan seperti perempuan-perempuan kehilangan identitas?

mungkin aku salah satu di antara para perempuan-perempuan yang pernah belajar feminis; menyetujui tapi tak ingin disebut sebagai seorang feminis. itulah keadaan feminis modern ini pada umumnya. para feminis gelombang ketiga tidak ingin disebut sebagai feminis. mereka tak ingin dikatakan munafik ketika mereka nantinya memutuskan untuk menikah, memasak, dan memiliki anak. ya, aku juga memiliki alasana yang sama apabila itu pertimbangannya. sehingga muncul lah istilah post-feminist, para perempuan yang berpikir tapi tidak ingin keberadaannya seperti para pendahulunya. mereka percaya bahwa teriak-teriak di jalan bukan lah cara yang tepat lagi untuk menyuarakan pemikiran mereka. seperti politisi Indonesia yang sadar dengan keberadaan media, para perempuan ini menyelusup masuk ke layar kaca penduduk dunia dan juga halaman-demi halaman di majalah. mereka menyampaikannya dengan membuat jargon "Girl Power". Beberapa artis mulai mereka dekati dan berbagi pemikiran mereka kepada mereka yang tidak mengetahui apa-apa tentang pemikiran perempuan ini. para artis ini adalah perempuan (atau mungkin juga laki-laki) yang disadarkan keberadaan perempuan yang kelasnya di bawah mereka. para perempuan yang tidak memakai pakaian bermerk, bekerja keras tiap harinya, mengurus anak, memasak untuk keluarga, dan terparah mendapat perilaku tidak menyenangkan dari pasangannya. perempuan kelas enak mana yang tidak tersentuh dengan kejadian seperti itu. para petinggi-petinggi ini pun mulai mengkampanyekan "bisikan-bisikan" itu, di lagu, di penampilan mereka, silat lidah mereka, dan mungkin satu dari pernyataan beyonce ini juga:

Men have to demand that their wives, daughters, mothers, and sisters earn more—commensurate with their qualifications and not their gender. Equality will be achieved when men and women are granted equal pay and equal respect.

lalu, apa benar para perempuan yang bagi artis-artis ini harus diperjuangkan suaranya benar-benar butuh pembelaan atas dasar penilaian stereotype kelas bawah yang dibentuk oleh orang-orang intelektual itu?

benarkah semua perempuan ingin mendapatkan hak lebih dari yang mereka miliki sekarang? pasti jawabannya "iya" atau mungkin juga "tidak". jikalau aku diberi pertanyaan tersebut, tentunya aku menjawab "iya". Iya, aku ingin membuat keadaanku jauh lebih baik. jauh lebih baik ketimbang harus menjadi budak perusahaan besar demi mendapatkan pengakuaan keberadaanku di lingkungan sosialku karena uang yang ku dapat, seperti para perempuan masa kini. mereka seperti tersadar bahwa mereka harus bekerja keras untuk menghasilkan uang banyak sehingga memiliki kuasa atas lingkungannya. tapi apa itu benar-benar kesadaran yang mereka alami sendiri dari diri mereka? apa ternyata itu semua hanya kesadaran palsu yang direkayasa oleh para penguasa? penguasa yang ingin mencari untung sebesar-besarnya, untung dalam waktu yang cepat dengan memanfaatkan ke-"rajin"-an para perempuan dalam pekerjaannya. bisa saja seperti itu bukan?

dalam kuliah strata dua, kajian feminis masuk dalam mata kuliah teori kritis berdampingan dengan marxis, habermas, gramsci, foucault, dan lain-lainnya. apabila diambil sari pati dari setiap teori tersebut maka akan muncul poin utama dari segala omongan panjang lebar para pemikir itu adalah kesadaran. kesadaran ini tidak ditargetkan untuk sebuah kelompok besar. satu individu saja sadar itu sudah merupakan keberhasilan dari teori-teori tersebut. sehingga ketika seorang perempuan ingin merasa ada di dunia ini, caranya bukan dengan memperlihatkan bentuk materi (harta bahkan tubuh) kepada publik melainkan mereka harus terlebih dahulu sadar terhadap diri mereka. sadar dengan apa yang selama ini mereka dapat dan tidak dapat. sadar bentukan diri mereka, sadar dengan apa yang dibentuk oleh sekitarnya. Satu orang perempuan lebih baik mendefinisikan dirinya sendiri, bukan satu definisi untuk semua perempuan.

aku melihat perempuan di luar sana sudah terlalu berlebihan dipengaruhi oleh cita-cita idealis mengenai kebebasan. sayangnya kebebasan yang mereka idolakan ini terlalu liar. sehingga seorang dewi persik bisa mengatakan perempuan memiliki dua mulut dengan senonoh berbeda jauh dengan suara yang kudengar sebelumnya dengan pernyataan yang sama namun jauh lebih elegan.




belum aku bisa mendefinisikan diriku sendiri sebenarnya, tapi aku harus sadar dengan apa yang terjadi di sekitarku dan berusaha untuk bersikap sesadar mungkin dengan segalanya. sane and not being angry cause woman can't write good if she were angry, said Woolf. 


image source:
Just a Touch from Coral Rose by Bunny Griffeth from Bunny's Artwork
Virginia Woolf from here

Jakarta, 13 Februari 2014