a wedding: Gelly and Aldo

A photo posted by Prilja H. (@prilja) on

...this morning might be the best morning ever in my life so far. I woke up with someone that I adore and love with his sleepy peace face. Open the shade and saw morning light through the window and said "wake up, it's morning. we had a great night and now great morning too..."
dua malam kemarin kuhabiskan bersama Ming dan teman-teman untuk pernikahan Aldo dan Gelly. Dua orang kamerad yang akhirnya mengikat sumpah di altar gereja Sabtu lalu. Ini merupakan pengalaman pertamaku menghadiri pemberkatan pernikah di gereja katolik. Selama ini aku hanya menghadiri akad nikah di masjid dan mendengar ijab kabul. Kemarin, aku akhirnya mendengar bentuk sumpah lain yang, entah karena ini pengalaman baru, terasa lebih khidmat dengan segala prosesinya. Walau sempat tertidur di bangku penerima tamu karena mengurus beberapa hal hingga dini hari untuk persiapan pernikahan ini, aku sempat dibangunkan sebelum akhirnya mendengarkan lagu Ave Maria yang dikumandangkan ketika kedua pengantin menghadap Bunda Maria. 

Saturday the 8th is the most fun wedding day ever with lot of Chinese. Yep, pengalaman multikultural ini membuat diriku kadang tertawa kecil dalam hati saat menghadapi tamu-tamu yang berdatangan, bukan mengejek, tapi karena merasa berbeda dari pengalaman menerima tamu di resepsi-resepsi keluarga sebelumnya. Salah satu yang unik adalah pemberian nomor sesuai data di buku tamu pada amplop angpao dari para tamu. Orang-orang yang datang juga sibuk meminjam pulpen apabila mereka lupa menuliskan nama pada amplop mereka. Dari nalarku dan Ming, pemberian nomor dan nama tersebut dimaksudkan agar kelak pengantin dan keluarga dapat memberikan hadiah yang sama ketika sang pemberi angpao membuat acara. Kadang akan ada stigma negatif dari tradisi ini dengan disebut sebagai sikap pamrih, tetapi ketika sebuah kelompok manusia sudah membuat aturan tradisi maka hal tersebut sebenarnya ada manfaatnya. Selagi aku belum dapat informasi jelas tentang kebiasaan tersebut, lebih baik kutinggalkan saja dengan kesan unik      yang sedikit merepotkan penerima tamu :P

Gelly dan Aldo memilih tema pesta era 20an dengan nuansa warna black and gold. Malam itu semua tamu disuguhi hidangan Italia oleh Mamma Rosy. It was a rare experience for me to taste different kind of (mostly) no-pasta dishes from Italy (Ming bukan orang yang suka bertualang rasa kecuali ada kata "sushi" di dalam menunya). Mereka menyajikan aneka macam hidangan dengan perpaduan bayam dan terutama mayonnaise! yep, mayonnaise eveeeerywheeere. Kekentalan mayonneise disajikan sebagai saus cocolan pada hidangan Ravioli con Aioli, lalu saus pada smoked beef yang diberi olive di atasnya, dan juga salad dengan kentang, wortel, dan kacang polong rebus. Karena ini restoran italia, tidak akan pernah lupa sang koki untuk menyajikan pizza andalannya, pizzas full of cheese and pizzas with beef and everything as the topping. All these foods won't complete without a perfect drink special made from the owner, italian shots of Limoncino. purrffect! 

oh food.

I can't tell you lot about the wedding atmosphere cause even words couldn't describe it as well as pictures of happiness. atau dengan kata lain, bingung mau menulis apa lagi.... LOL!