3 Na(p)as Likas: usaha menyintaskan même


Bukan hal yang biasa untuk aku dan ming menonton film Indonesia yang bukan dari sutradara terpercaya    termasuk Hanung. Walau banyak tokoh terkemuka mengatakan bahwa film Indonesia sudah mulai bangkit dari keterpurukan, semua itu dikatakan ketika mereka sedang mempromosikan film mereka sendiri. Bahkan, seorang teman yang bekerja di balik layar pun suka merasa malu dengan para artis merangkap produser ketika mengomentari film yang sudah melalui proses editing. Komentar bodoh seperti orang awam yang tidak tahu film itu apa dan bagaimana.

Hari ini ming mengajakku menonton sebuah film yang di balik layarnya ada kedua orang temannya ketika berkuliah. Judul filmnya "3 Nafas Likas"     bahkan menulis kegiatan keluar-masuk udara dari mulut atau hidung saja salah; napas. Melihat poster filmnya, ming langsung merasa terganggu dengan munculnya sosok aktor "Realita Cinta dan Rock n Roll" di samping aktris utama. Aktor paling buruk yang pernah Indonesia miliki sepertinya. Tapi, dia mencoba mencari sisi positif film itu dengan mencari trailer di youtube dan membaca sinopsisnya. Menarik. Skenarionya ditulis oleh orang yang dikenal ming sebagai penulis skenario yang bagus dan trailernya pun menyebutkan kata "berdasarkan kisah nyata". Oke, 14:55 film itu dimulai dengan seorang penulis perempuan yang menemui seorang perempuan tua bernama Likas untuk buku terbarunya.

Hampir di akhir cerita, sang penulis bertanya, "Lalu, apa arti kebahagiaan yang sebenarnya bagi ibu?"
Gundu. Permainan yang biasanya dikuasai oleh anak laki-laki, tiba-tiba saja dimenangi oleh seorang anak gadis berambut keriting dan bertubuh lebih besar dari kawan-kawan lawan jenisnya itu. Likas anak seorang petani di sebuah daerah di Sumatera Utara. Dia anak yang cerdas dan ingin sekali menjadi guru. Sempat ia menyerah meraih cita-citanya itu karena sang ibu yang tak ingin kehilangan anak-anaknya satu demi satu karena merantau. Baginya, anak yang merantau itu terjadi pada keluarga miskin yang tidak bisa memberi makan anak-anaknya. Tapi dengan segala desakan sang ayah dan sang kakak yang sudah susah payah mengumpulkan uang agar Likas bisa melanjutkan pendidikannya, ibunya pun mengalah dan mengizinkan, dengan berat hati, Likas bersekolah di Padang Panjang. Walau Likas juga merasa berat, tapi sang kakak meyakinkan bahwa bersekolah penting agar dia tidak menjadi seperti seorang bibi tetangga mereka yang diceritakan sebagai perempuan yang menuruti segala perintah suaminya, bekerja siang hari membantu suaminya, lalu malam menumbuk padi untuk esok hari sementara sang suami sedang minum tuak dan berjoget bersama kawan-kawannya. Likas pun pergi ke sekolah guru, ia menjadi murid yang terpintar. Ketika ia selesai menempuh pendidikannya, ia pulang dan mendapat tamparan    dan yang sesungguhnya    dengan kabar kematian ibunya.

Likas bertemu seorang tentara PETA yang bernama Djamil Ginting. Mereka bertemu secara tidak resmi di sebuah perkumpulan   yang entah itu perkumpulan apa   di waktu Likas berpidato tentang perempuan dan diprotes oleh banyak lelaki di sana yang merasa si perempuan gila ini mengkhianati adat istiadat. Djamil mengejeknya, Likas marah, tapi akhirnya mereka jatuh cinta. Mereka menikah dengan Djamil membeli Likas seharga 1000 gulden. Tak pernah mereka mengadakan pesta adat hingga Likas memiliki anak keempat. Selama itu, hidup mereka dijalani dengan segala macam perang yang terjadi di Hindia Belanda. Dari perang yang tak tau apa namanya, pendudukan jepang, perang yang tak tau apa namanya lagi, lalu agresi militer. Setiap harinya Likas selalu mengkhawatirkan nyawa lelaki yang dicintainya itu. Laki-laki penggila perang yang pada akhir hayatnya meninggal sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kanada. Ya, ada perubahan status sosial yang Likas alami. Dari seorang anak petani di desa kecil, guru di kota kecil, istri seorang tentara dengan pangkat yang naik terus tiap pertarungannya, guru lagi ketika harus mengungsi, istri yang mengurus anak-anaknya sambil menjadi seorang ibu pejabat tentara, dan akhirnya istri seorang Duta Besar. Tidak hanya status, Likas pun berubah secara sikapnya, dari seorang anak batak yang kaku dan terkesan kasar, menjadi guru yang   sepertinya   bijaksana, juga wanita batak yang kuat dan memegang teguh dengan prinsipnya, dan terakhir ibu pejabat yang belajar kursus kepribadian dengan seorang nyonya cina anggun supaya pantas menjadi pendamping seorang pejabat militer. 



Pada awalnya, cerita yang memainkan Likas sebagai tokoh utama ini memperlihatkan bagaimana kegigihan seorang anak gadis yang nyaris melepaskan cita-citanya hanya karena adat istiadat yang dipahami sang ibu. Ia terus belajar hingga akhirnya ia meraih cita-citanya untuk menjadi seorang guru dan bahkan ia bisa berbicara di depan perkumpulan-yang-tidak-jelas tentang 'keperkasaan' perempuan. Wah, tentu film ini akan seperti film-film masa kini yang mengangkat tema 'keperempuanan' dan sepertinya tokoh Likas ini bagai Kartina asal tanah Sumatera. Sayang disayang, Likas tidak sekuat yang kita harapkan seperti di awal film ketika ia sedang berpidato di perkumpulan-yang-tidak-jelas.

Di mulai dari perkumpulan-yang-tidak-jelas, jalan cerita pun menjadi buram visinya. Terlalu banyak yang ingin disampaikan dalam film tersebut hingga tidak tampak benang merah dari cerita tersebut. Ingin memperlihatkan kekuatan Likas sebagai gadis batak yang sadar akan keberadaan perempuan? Atau Likas yang akhirnya menjadi seorang ibu pejabat setelah melalui banyaknya perang di Indonesia? Banyak hal-hal yang seharusnya bisa diangkat kembali untuk menguatkan karakter Likas sebagai seorang perempuan 'calon feminist' dari batak. Bayangkan saja, tiba-tiba seorang Likas yang sedang berfokus menjadi guru bisa-bisanya teriak-teriak tentang kekuatan perempuan dalam keluarga di perkumpulan-yang-tidak-jelas itu. Pembangunan karakter macam apa yang hanya memperlihatkan pesan-pesan dari sang kakak untuk Likas    yang ditanggapi oleh sang tokoh utama dengan biasa saja     tanpa ada babak drama mewujudkan pesan-pesan tersebut. 

Terlalu banyak kritik yang bisa diberikan untuk film berbudget 8.000.000.000 ini. Tapi untuk tulisan ini, aku tidak akan menulis kritik-kritik terhadap struktur cerita yang terlalu mudah untuk dihabisi. Ada hal yang lebih menarik yakni sosiologi dari si film yang dapat memperlihatkan bagaimana manusia-manusia dengan kapital ekonomi, sosial, dan utamanya simbolik yang beradab masih memiliki pola berpikir manusia purba.

Richard Dawkins dalam bukunya yang berjudul The Selfish Gene mengatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk hidup dengan gen-gen yang ingin sintas di alam yang liar ini. Gen ini memiliki sifat ruthless selfishness demi keberhasilannya untuk bertahan hidup. Salah satu caranya adalah dengan memiliki keturunan yang memiliki gen sama. Manusia akan lebih memilih menyelamatkan satu nyawa dari keturunannya dibandingkan satu keluarga yang berbeda darah. Hal ini sepertinya seorang Ibu yang lebih memilih menyelamatkan bayinya yang baru lahir ketimbang dirinya sendiri. Walau ini bentuk pengorbanan besar kasih saya seorang ibu, sebenarnya sikap altruisme tersebut masih menyimpan keegoisan manusia yang ingin agar gennya terus hidup. Ia menjadikan sang anak sebagai agen penurus gen sang ibu. 

Dengan menyebut istilah 'gen' pastinya yang terbayang oleh kita adalah sel-sel DNA yang berbentuk spiral yang ada di dalam tubuh manusia seperti di film-film. Pada terapannya dalam kajian kultural, gen adalah même. Même sendiri berbentuk ide-ide yang penyebarannya terjadi dari otak ke otak lainnya. Seperti gen dari ibu dan ayah yang diturunkan kepada sang anak. Même tidak hanya terjadi antara hubungan keluarga saja tetapi juga dalam bentuk pertukaran ilmu pengetahuan. Walau gen plato sudah tidak ada, namun même plato masih ada hingga sekarang dalam bentuk ilmu pengetahuan.

Sempat tersirat bahwa film ini merupakan bentuk ambisius sang keluarga yang ingin menjadikan Likas dan Djamil sebagai tokoh nasional Indonesia. Bila kau menonton film ini dan bertahan untuk melihat nama-nama di balik layarnya, kau akan menemukan banyak nama dengan Ginting di akhir sebagai produser, Tidak hanya produser, bahkan di salah satu babak cerita ketika sang Likas ketua berkumpul dengan anak-anaknya, pada credit title disebutkan nama mereka as themselves. Ya, ternyata film '3 Na(p)as Likas' ini merupakan hadiah ulang tahun untuk sang Nenek Uyut Likas dari anak-anaknya. Keluarga itu menghabiskan uang 8.000.000.000 (sengaja kusebut kembali) untuk ulang tahun sang ibu. Di akhir film diperlihatkan beberapa foto yang memperlihatkan nama Djamil Ginting yang menjadi nama sebuah jalan di Pulau Sumatera dan juga di patung-patung yang memahat sosok beliau. Itu bukan bentuk penghargaan dari pemerintah, tetapi sang keluargalah yang membuatnya. Mereka membeli jalan yang panjangnya dari ujung utara hingga selatan Pulau Sumatera dan membuat sendiri monumen-monumen sang kakek sebagai pahlawan dari Sumatera Utara.

Betapa kaya rayanya keluarga Likas sekarang hingga anak-anaknya dapat membuatkan film seharga 8.000.000.000 yang hanya ditonton 8 orang di studio 1 di sebuah bioskop. Mereka mengeluarkan uang yang tidak sedikit demi meneruskan même Likas dan Djamil Ginting yang telah habis gen aslinya. Mereka ingin bibit mereka menjadi même baru dalam kepahlawanan nasional karena ide bahwa sang kakek adalah pahlawan nasional jelas tidak ada di dalam pikiran orang Indonesia. Mungkin hanya penggiat sejarah, militer, atau politik saja yang mengetahui sosok seorang Djamil Ginting. Harapan mereka, ketika film selesai para penonton dapat mengenali même tentang Likas sebagai perempuan tangguh asal Sumatera yang bisa disejajarkan dengan R.A. Kartini. Apabila film ini berhasil menciptakan même tersebut, maka eksistensi même keluarga Ginting tidak akan pernah habis karena telah terekam dalam sebuah film. Sehingga keberadaan (même) mereka akan terus ada sepanjang bumi belum kiamat.

This is what I called civilized human ironic. Para pemilik kapital itu merasa punya pemikiran paling hebat dibandingkan dengan manusia    yang mereka katakan     primitif. Padahal isi kepala mereka sama saja dengan tujuan gen yang berkembang pada manusia purba jutaan tahun lalu. Lihat saja, uang 8.000.000.000 mereka habiskan begitu saja hanya untuk 2 jam kisah hidup nenek buyut mereka agar terkenang sepanjang masa, berupaya memperkenalkan sosok pahlawan wanita baru yang pada akhirnya dibentuk menjadi seorang ibu pejabat kaya raya yang memiliki lahan kelapa sawit di sekitar rumahnya, sementara di pelosok negeri masih banyak orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan, rumah, dan bahkan makanan yang layak. Mereka mengeluarkan banyak uang untuk membangun patung, museum, dan jalan dengan nama Djalil Ginting agar keberadaan mereka diakui sepanjang hayat. Di sisi lain masih banyak petani-petani yang melarat karena tidak adanya dana untuk menjalankan kembali pertanian mereka dan ironisnya Likas berkata pada sang adik, "...Aku ingin menjadi seorang anak petani sejati."

Apa itu yang disebut menjadi seorang anak petani sejati?


Sayangnya ia tidak akan bisa semengagumkan R.A. Kartini yang disebut sebagai pahlawan nasional pencetus emansipasi wanita. Likas (bagiku) akan dikenal sebagai seorang istri pejabat militer Djamil Ginting yang pernah diprotes karena mengangkat isu perempuan di sebuah perkumpulan-yang-tidak-jelas dan selalu ingin dihargai




Apabila para filsuf posmodern mengatakan bahwa sejarah dibuat tergantung permintaan, maka inilah contoh pembentukan sejarah melalui media populer yang menghabiskan 8.000.000.000 untuk memperkenalkan seorang militer dan duta besar kepada publik, Yang keluarganya terlalu bangga hingga tak cukup hanya nama sang kakek menjadi nama jalan, nama di buku sejarah, dan nama pada batu nisan di Taman Makam Pahlawan.






Lalu apa jawaban Likas tentang kebahagiaan?
Mungkin akan dijawab oleh anak-anaknya ketika mereka berhasil meluncurkan film tentang orang tua mereka di bioskop-bioskop nasional.